meta content='width=1100' name='viewport'/> Catatan Iseng Anak Kuliahan | Writes among absurdism: November 2018

Tuesday, 13 November 2018

SENJA


Ada senja yg belum ku sapa, ia bertanya " kemana kau di saat aku akan tenggelam? Jika ku tak memancarkan keindahan, apakah kau masih mau menanti?"

Senja, kedatangam mu adalah kebahagian ku, selalu datang secara perlahan, mendekap dengan kehangatan seraya menuntunku pada renungan "apa kita bisa selalu bersama?"  lalu tiba-tiba hilang meninggalkan dengan kehampaan.
Aku heran, Kenapa kau hanya singgah dalam waktu yang se singkat itu?

Keindahan mu itu nyata namun juga fana. Terlena dan terlalu nyaman akan hadirmu dan aku terlalu dangkal untuk mengerti, bahwa banyak pula yang menikmati mu. Dan kau peduli pada itu. Saat itulah kamu memilih pergi. Lalu, " apa aku harus selalu menanti, senja?"

Senja memberiku pemahaman akan kata merelakan. Karena apa yang bersama kita tidak akan kekal. Seperti mu yang singgah membawa deru angin suka cita, melukiskan siluet yang penuh dengan kenangan. Lalu tenggelam.

Senja akan selalu hadir dan juga pergi tanpa pinta. Masa itu akan tiba dan tidak sedikitpun bisa menolaknya. Maka ku pastikan, aku akan menanti di antara siang dan malam, tanpa berharap kau akan bertahan.